Black Mirror S2E3 – The Waldo Moment

Politik.

Apa yang terlintas di benak ketika mendengar satu kata di atas?

Bagi saya, “politik” ada layar kaca televisi. Saya melihat orang-orang yang sudah berumur berbicara/berorasi di depan sekumpulan orang-orang berumur lainnya tentang suatu hal yang mereka klaim sebagai “kepentingan publik”. “Kepentingan publik” saya beri tanda petik karena saya sejak kecil selalu merasa bahwa apa yang ramai di layar televisi sebagai “politik” tidak betul-betul saya, sebagai bagian dari publik, rasakan. Bisa dikatakan saya senantiasa merasa terpisah atau detached dengan apapun yang disebut dengan “politik”. Saya hanya penonton, dan “politik” hanya satu dari sekian banyak hiburan yang bisa saya pilih kapanpun untuk saya nikmati ketika penat.

Apatis? Saya rasa iya.

Ketika saya bertumbuh besar, saya baru menyadari bahwa hampir semua aspek kehidupan saya dipengaruhi oleh kebijakan/program kerja hasil dari “politik” para pejabat negara kala itu. Harga BBM misalnya, atau fact bahwa saat ini orang-orang bisa menempuh perjalanan darat dari Lampung hingga Palembang dalam waktu 6 jam saja (dulu bisa 12 jam menggunakan jalur Lintas Sumatera). Atau fact bahwa saat Natal & Tahun Baru nanti, saya punya alternatif jalur yang mengurangi kemacetan saat menuju Bandung (thanks to jalan tol layang Jakarta-Cikampek).

Saya bisa tetap apatis tentu, tapi saya tidak bisa menafikan fakta bahwa “politik”, yang kadang saya pandang sebagai dagelan atau sesuatu yang terpisah dari hidup saya, adalah sesuatu yang mempengaruhi hidup saya dan bagaimana saya menjalani hidup saya. Meski saya kadang muak dan annoyed dengan beberapa kebijakan yang dihasilkan dari “politik” tersebut.

Pada episode Waldo Moment, diperlihatkan bahwa beruang biru bernama Waldo mampu menarik perhatian masyarakat karena dirinya mampu berbuat dan berkata-kata “tidak seperti kebanyakan politikus”. Waldo dengan mudah diterima oleh publik meskipun mulutnya kotor, penuh umpatan, dan kalimat-kalimat yang jorok. Mengapa? Karena Waldo mengarahkan kata-katanya pada para politikus itu. Mengapa publik dengan bisa dengan mudah menerima keberadaan Waldo? Mungkin alasannya sama dengan apa yang selama ini dirasakan oleh kita semua sebagai warga yang merasa “apolitikal”, kita tahu bahwa para politikus itu cuma berbohong dan menggunakan lip service-nya untuk kepentingan pribadi mereka saja. Publik jengah, kesal dan marah atas dusta ini, makanya ketika Waldo muncul, Waldo menjadi simbol perlawanan yang mengekspresikan kekesalan publik itu.

Lagipula, siapa sih yang tidak senang dan puas ketika bisa sesekali menyemprot politikus/pejabat negara yang mereka benci dengan kata-kata abusif nan penuh kebencian, dengan tanpa konsekuensi apapun? Of course kita bisa lakukan itu di media sosial dengan menggunakan akun anonim seperti yang banyak dilakukan, namun dalam kasus Waldo, ataupun para akun dengan berjuta follower, being significantly heard is what matters.

Dan fakta bahwa kita tahu kalau kita didengar (dibuktikan dengan respon-respon balik yang masuk) adalah yang membuat signifikansi itu menjadi krusial.

On Being A Coach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: