Black Mirror S3E5 – Men Against Fire

Saya menonton episode ini dengan bergidik, terutama ketika memikirkan konsekuensi atas adanya teknologi dalam peperangan seperti yang digambarkan dalam “Men Against Fire”.

Dalam peperangan, hal utama yang dilakukan biasanya terkait manusia membunuh manusia lainnya. Some of us, normal people, termasuk saya, membunuh orang lain bukanlah perkara semudah membunuh nyamuk yang mengganggu kenyamanan kita ketika tidur.

Dalam beberapa gagasan, “humanity” dan hati nurani menjadi lini pertahanan terakhir sebelum kita memampukan diri kita menghilangkan nyawa orang lain. The thought of it, the fact that I’m writing the word “killing other people” sicken and frighten me. Mungkin kita bisa membunuh ketika orang lain berupaya membunuh kita juga, seperti di film-film. But this is not a goddamned movie. Sementara ini, belum ada suatu era di mana manusia terbiasa membunuh manusia lain. And I hope it stayed that way forever.

Namun bagaimana jika ada teknologi yang mengubah kenyataan yang kita lihat menjadi hal yang sepenuhnya berbeda? Seorang tentara dapat diubah visual yang dirinya lihat melalui matanya, sehingga alih-alih dirinya melihat manusia yang hendak dia bunuh, dia melihat monster/alien/zombie yang memang layak dibunuh.

Itulah premis dari “Men Against Fire”. Supaya para tentara bisa “menjinakkan” hati nuraninya, teknologi mampu mengubah visual yang menjadi target mereka, menjadi sesosok monster yang mengerikan, meski pada kenyataannya, mereka adalah manusia biasa pada umumnya.

Its crazy as f**k. And I can’t even image the ramification of such.

Jika memang banyak yang berpikir bahwa sesungguhnya umat manusia itulah sendiri yang akan menghancurkan dirinya sendiri, maka itu bisa jadi benar setelah menonton hal ini.

Tribalism, short-term thinking, and wishful thinking. Dikombinasikan dengan kapabilitas manusia untuk menjadi lebih cerdas dan lebih advance sehingga kapabel menjadi seperti dewa (godlike) yang mengganggu keseimbangan lingkungan lainnya. Konon itulah yang sudah hardwired into ourbrain yang menjadi sebab mengapa kitalah sebagai manusia yang akan menjadi sumber kehancuran kita sendiri.

On Being A Coach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: