[Old-Post] I love you. And I want you to love me. That’s why I bullshit you everyday.

[Old-Post] I love you. And I want you to love me. That’s why I bullshit you everyday.

Banyak tulisan telah dibuat mengenai kepercayaan dan cinta, yang menyatakan bahwa apabila kita bisa membangun hubungan yang penuh cinta dan kepercayaan, maka kita bisa saling jujur satu sama lain.

Aku justru mempercayai yang sebaliknya.

Memang enak ketika aku bisa mencintai sekaligus mempercayai seseorang, tetapi jika aku tidak merasakan ini, apa yang bisa aku lakukan ? Kepercayaan dan cinta adalah sebuah perasaan SEBAGAI respon-ku terhadap orang lain, dan respon ini TIDAK BISA direkayasa.

Ini hanyalah tentang apakah aku merasakan cinta, atau tidak.

Segala penekanan atau penegasan terhadap bahwasanya kepercayaan dan cinta bisa dihasilkan lewat berpura-pura mempercayai dan mencintai—dengan alasan : “karena ini sehat, dan akan membawa kedekatan, kejujuran, dan lain sebagainya”—hanya akan menambah kepalsuan dan ketidak-jujuran untuk setiap perilaku yang ada.

Namun demikian, kejujuran, adalah sebuah perilaku (alih-alih respon) dan merupakan sesuatu yang bisa aku pilih. Aku tidak bisa memilih untuk mencintai atau mempercayai, TETAPI aku selalu bisa memilih untuk jujur atau tidak.

Dan ketika aku memilih untuk sungguh-sungguh jujur dengan berkata sesuai dengan apa yang memang aku alami dan rasakan, aku menunjukkan bahwa aku bisa dipercaya.

Hanya perilaku inilah yang mampu memanggil respon kepercayaan. Kepercayaan merupakan responku terhadap seseorang yang aku tahu bisa aku percaya. Meski aku tidak menyukai seseorang, aku bisa mempercayainya apabila dia senantiasa jujur padaku, dan aku menghormati keinginannya untuk jujur.

Tentu saja, kejujuran TIDAK SELALU membawa respon berbentuk cinta, namun ini sangatlah esensial. Ketika aku jujur apa adanya, dan kamu meresponku dengan kehangatan dan kepedulian yang tulus, maka di sini telah ada yang namanya cinta.

Sekali lagi, ketika aku jujur apa adanya, dan kamu meresponku dengan kehangatan dan kepedulian yang tulus, maka DI SINI telah ADA yang namanya CINTA.

giphy
Jika aku berkalkulasi dan memasang perilaku palsu hanya untuk menyenangkan dirimu, kamu mungkin saja mencintai perilaku-ku, tetapi kamu tidak bisa mencintaiku, karena aku telah menyembunyikan keberadaan/eksistensi-ku yang sesungguhnya DI BALIK perilaku artifisial ini. Kendati pun kamu mencintaiku sebagai responmu terhadap perilaku-ku yang ini, aku tidak bisa BENAR-BENAR menerima cintamu.

Karena cinta itu telah teracuni oleh pengetahuanku, bahwa ia ada HANYA untuk image yang telah aku ciptakan, bukan benar-benar untukku. Dengan begitu, aku pun harus senantiasa berjaga, memastikan bahwa aku selalu memelihara image-ku ini sehingga cintamu takkan pergi kemana-mana.

Karena aku telah menutup diriku sendiri dari cintamu dengan cara ini, aku akan selalu merasa kesepian dan tidak dicintai. Oleh karenanya, aku dengan putus asa terus memanipulasi diriku sendiri juga kamu, untuk selalu bisa mendapatkan cinta ini.

Betapa kontrasnya keadaan kita jika aku membuka diriku apa adanya, baik terhadap diriku sendiri maupun terhadap dirimu, dan kamu merespons-ku SEBAGAIMANA AKU DI SAAT ITU (tanpa perlu kamu ditemani oleh penilaianmu, pengalaman masa lalumu, prasangkamu, harapanmu, nilai-nilaimu, moralitasmu, serta dogma dan doktrinmu).

Aku akan bisa menerima segala sesuatu sepenuhnya, serta menyadari betul kepuasan dan kesejatian ketika bersamamu.
Hubungan yang penuh kejujuran ini tidaklah selalu menyenangkan. Tentu saja. Terkadang kita merasa sedih, marah, kecewa, dan hancur karenanya.

Tetapi demi Tuhan, it is always SOLID, REAL, and vitally ALIVE. *

* Diterjemahkan (dan telah sedikit disesuaikan dan dibumbui oleh saya sendiri for (maybe) your own comfort and enjoyment in reading translated stuff) dari John O. Stevens dalam Awareness : Exploring, Experimenting, Experiencing (1971), yang dikutip dari Brad Blanton dalam Radical Honesty (1996 : 56-58)

51nisckhnol

—–oOo—–

Mungkin kita cukup takut untuk mengetahuinya. Atau kita terlalu sibuk untuk meluangkan waktu mencarinya. Atau barangkali justru kita terlampau dungu dan bebal untuk menyadarinya.

Kebenaran itu. Kesejatian itu.

Itulah yang senantiasa kita rindukan segera setelah udara dunia merengkuh penuh kulit kita yang tipis untuk pertama kalinya. Itulah yang senantiasa kita dambakan segera setelah kita mengenal betapa nyaman, aman, dan hangatnya dekapan kasih Ibunda kita untuk pertama kalinya.

Kebenaran kadang merupakan sesuatu buruk rupa. Kebenaran kadang tak punya belas kasihan. Kebenaran kadang menghancurkan segalanya. Menghancurkan persahabatan, mematikan cinta kasih, memutilasi kesetiaan dan kepercayaan.

Tidak. Kebenaran seperti itu, karena manusia yang memberinya atribut demikian. Manusia melekatkan kata-kata sifat seperti itu SETELAH ada kepentingannya yang tak tercapai atau ada perasaannya yang porak-poranda.
Sedangkan kebenaraan tetap berada di sana. Berdiri mantap. Tak tergoyahkan. Bebas nilai, bebas prasangka, bebas definisi. Kebenaran yang apa adanya. Kebenaran yang selama ini sudah ada dalam diri setiap manusia. Menanti untuk diterima, diakui, dan disyukuri keberadaannya.

Why can’t we just accept the truth as it is ? Why can’t we just tell the truth ?

—–oOo—–

“We all lie like hell. It wears us out. It is the major source of all human stress. Lying kills people.. Evidence from the past doesn’t prove anything about current experience.. If we humans are to be saved form ourselves, individually as well as collectively, we have to learn more about the art and science of speaking the truth.”—Brad Blanton

“Kunci pertama menuju kebesaran adalah menjadi seorang yang sama dengan pribadi yang terlihat.”—Socrates

“All truths are easy to understand once they are discovered; the point is to discover them.”
—Galileo Galilei

“There are only two mistakes one can make along the road to truth; not going all the way,
and not starting.”—Buddha

“And you will know the truth, and the truth will make you free.”—John (8 : 32)

“Tidakkah manusia itu lucu, Bodhi ? Selama hidup mereka konstan mengeluh dan mengaduh, tapi begitu hidup ingin menarik diri, mereka tidak pernah rela.. Langkahkan kaki, tendangi kerikil, dan temukan Kesejatian itu.”—Dewi Lestari (Dee)

“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Dan jika kamu memutar-balikkan [kata-kata] atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya
Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”—Q.S Annisa : 135

“I love you, and because I love you, I would sooner have you hate me for telling you
the truth than adore me for telling you lies.”—Pietro Ariteno

Advertisements

Mata yang Menipu

Mata yang Menipu

Kita tidak bisa mempercayai mata ini sepenuhnya.

What is seen deceives you.

Sedihnya, kita cenderung mengambil kesimpulan yg begitu decisive terhadap emotional state solely based on what is happening before our eyes.

Ditambah dengan kecanduan kita terhadap social media. Lengkap sudah.

Parade kebahagiaan dari orang-orang sekitar. Tentang pertemuan hangat dan intim dengan teman dan keluarga. Tentang anak-anak mereka yg menggemaskan. Tentang perjalanan mereka ke tempat-tempat yg mengagumkan ke pelosok dunia. Tentang prestasi dan pencapaian mereka yg berkilauan.

internet-says

Kita melihatnya. Dan kadang benak ini tak pelak mengkerdilkan diri masuk ke lubang gelap dingin bersama teman imajiner yg kerjanya hanya berbisik : “Sepertinya hanya engkau-lah satu-satunya yg tidak bahagia.”

Nyatanya kita tidak pernah bisa mengetahui keadaan orang lain yg sebenar-benarnya. Apalagi orang-orang yg lebih sering kita ketahui kehidupannya lewat social media.

People have their own problem, katanya, no matter how shiny they looked before your eyes.

Everyone fought their own battle, katanya.

Kunci

Kunci

Being consistent and discipline is hard. That is why greatest people alive are always a few among many. Because to do such consistency and discipline so just plain hard.

Ada yang bilang kalo disiplin dan konsistensi itu di dorong oleh yg namanya ‘Purpose’. Bahasa Indonesianya mungkin “Maksud” atau “Tujuan” tapi somehow dua kata ini tidak se-powerful bahasa aslinya.

Yeah, sedemikian powerful sehingga sanggup mendorong seseorang untuk mengabaikan malas, distraksi, dan penghalang-penghalang psikologis lainnya dalam rangka melakukan apa yg harus dirinya lakukan.

Purpose.

Somehow, itu jugalah yg membentengi diri dari perasaan insecure, terutama ketika melihat orang-orang lain yg tampaknya senantiasa berbahagia dan sukses. Betapa manusia itu merupakan makhluk yg sangat cepat mengambil kesimpulan dari sedikit informasi yg dia terima.

Betapa manusia itu senang sekali melakukan ‘deletion’ terhadap kenyataan yg sesungguhnya terjadi.

Kadang memang kenyataan yg tersaji memang tidak utuh. Kadang kenyataan yg tampak sama sekali tidak mendeskripsikan yg sesungguhnya.

Semuanya serba sepotong. Dan potongan ini kita telan bulat-bulat untuk kita jadikan satu-satunya kebeneran di benak kita.

We simply don’t know shit about other people. We will never know, no matter how open they are to us or how a celebrated attention-seeker whore they are on the social media.

Just like our own selves. There is always things we kept to ourselves.

Something dark. Something that we’re so afraid of to be known to others. Something that is mysterious even to ourselves.

gilmer__the_darkness_inside_by_vialir-d6owuhv

I am still looking for a key that unlock the mystery to myself.

Don’t we all ?

I am My Own Worst Enemy

I am My Own Worst Enemy

Manusia seumur hidup gak berhenti diuji integritasnya. Setiap hari. Setiap saat. Kalau pun gak ada orang lain yg ngeh, keutuhan pribadi itu tetep diawasi oleh sang hakim yg ada di dalam diri sendiri.

Konsekuensi dari sistem “free will” yg di-install ama Tuhan. Kita sebagai manusia jadi selalu punya pilihan untuk melenceng dari apa yg sudah kita janjikan keluar.

Or is it ?

Jadi inget bukunya “The God’s Debris” yg bilang kalo kebebasan memilih yg dianugerahkan sama manusia itu gak lain gak bukan adalah ilusi semata.

50221-_uy440_ss440_

Ilusi yg diciptakan untuk membuat manusia berpikir kalau dia-lah yg sesungguhnya memegang kendali dalam kehidupannya.

Ilusi yg didesain untuk membuat manusia berpikir kalau dirinya-lah yg menentukan nasibnya sendiri.

Salah satu gagasan dari “The God’s Debris” yg paling mengguncang nalar adalah ketika ada pertanyaan :

“Jika Tuhan Maha Mengetahui segalanya, maka apakah Dia mengetahui nasib-Nya sendiri ?”

Pemikiran yg menarik sekaligus mengganggu. Belum baca sampe selesai karena abstraksi buku itu masih sulit untuk dicerna.

Anyhoo, balik lagi ke integritas, itu kayanya jadi isu sentral kebanyakan orang saat ini. Termasuk saya.

Susah jadi manusia itu.

Akhir-akhir ini saya jadi makin paham kenapa Muhammad SAW pernah bilang kalau peperangan terbesar terjadi di dalam diri manusia itu sendiri. Karena peperangan ini berlangsung seumur hidup, dan setiap saat. With a little break. And occured oftenly when you are at least expected it.

I am my own worst enemy.

7d98acf9f5d0efcdc18d5efd7c4071be

[Old-Post] The Last Samurai : Reflecting to the Now, where Devotion is Scarce

[Old-Post] The Last Samurai : Reflecting to the Now, where Devotion is Scarce

Film lain yang memberi impact cukup dalam menurut saya adalah film-nya Tom Cruise, The Last Samurai (2003).

Ada satu kalimat yang sampai detik ini masih terngiang-ngiang di benak yaitu :

They are an intriguing people (mengacu ke orang-orang di desa Samurai), from the moment they wake.. They devoted themselves to the perfection of whatever they pursue. I have never seen such discipline.”

Devotion. Toward perfection.

Kata-kata itu begitu menancap dalam di benak ini.

Apa rasanya memiliki rasa pengabdian tak tergoyahkan akan sesuatu hal ?

Bahasa sekarangnya mungkin adalah komitmen dan disiplin.

Its a hard thing to do. Really.

Saya coba menelaah mengapa ini sulit dilakukan dari berbagai sisi.

Yang pertama adalah perbedaan zaman. Zaman sekarang, terlalu banyak distraction. TV, radio, box office movie, video game, social media, youtube. Flood of information. We are getting more than we can grasp and even comprehend. Zaman sekarang adalah zaman di mana fokus semakin sulit dilakukan.

Ngerjain tugas, cari bahan di googling, tiba-tiba perhatian tertarik sama hasil search google yang lain, klik ke sana, ternyata isinya menarik, and gone..

Niatnya break ngerjain tugas dengan cara youtube-ing, niatnya nonton satu video klip, terus liat tabel youtube recommendation, banyak hal-hal yang menarik di sana, klik ke situ, nonton, klik lagi lanjutannya, nonton, one thing led to another, and gone..

Siapa bilang kalau zaman sekarang itu hidup jadi lebih mudah ? No it is not.

Kalau zaman dulu memang basically there is nothing else to do selain melakukan apa yang dilakukan oleh samurai-samurai itu. Zaman sekarang memang lebih serba lebih mudah dan nyaman dalam hal akses informasi, tetapi itu ternyata menimbulkan korosi terhadap fokus dan disiplin diri.

Kayanya belum pernah umat manusia diuji seperti ini di zaman-zaman sebelumnya. Tantangannya makin berat.

Manusia sekarang diuji bukan karena kekurangan resource kaya di zaman dulu, tetapi karena kelebihan resource, terutama informasi.

Manusia sekarang secara konstan diuji terus kapasitas fokus, konsistensi, dan komitmennya.

Zaman sekarang begitu kompleks, rumit, dan.. Berisik.. Sehingga kesederhaan dan hal minimalistik adalah sesuatu yang begitu dirindukan. Setidaknya bagi saya.

Yang berikutnya mungkin adalah efek pendidikan orang tua. Well, bahkan Ibu saya pernah bilang kalau : “Ini salah mamah, mamah dulu terlalu memanjakan kalian.”

Orang tua zaman sekarang dengan segala kemudahan teknologi itu akhirnya jadi cenderung lembek dan terlalu memanjakan anak-anaknya. Dan anak-anak ini, dengan pengetahuan dan akses tanpa batas ke dunia luar mereka, jadi lebih banyak punya referensi tentang apa yang terjadi di luar sana. Akselerasi kecerdasan mereka akan semakin menggila.

Lagi-lagi, belum pernah sebelumnya orang tua diuji oleh pendidikan anaknya sendiri seperti di zaman sekarang. Membesarkan anak di zaman sekarang keliatannya adalah sesuatu yang penuh resiko. Terutama bagi si anak itu.

Si anak bisa menjadi sangat cerdas dan pintar dengan sebegitu instan, sehingga mereka jadi lack of appreciation terhadap proses. Well, ini hanya pandangan saya. Saya sendiri belum pernah membesarkan anak.

Tetapi poin utamanya adalah, zaman sekarang orang-orang sepertinya pingin segala sesuatu serba instan. Dan saya sendiri memiliki kecenderungan seperti itu. Mengerikan.

Makin ke sini, berarti manusia semakin menyimpang dari apa yang sudah digariskan oleh alam. I mean, there is nothing instant in this universe. Alam sudah mengajarkan kita bahwa segala sesuatunya bertumbuh perlahan dengan anggun dan pasti, memenuhi takdirnya sendiri-sendiri, terus bertumbuh hingga akhir. Akhirnya kapan ? Tidak ada yang tahu, but it doesn’t matter, they will keep growing without a scent of prejudice.

Anyway, pokoknya zaman sekarang hidup itu lebih sulit, karena segala sesuatunya semakin mudah.

Paradoks yang membingungkan sekaligus mengagumkan.

[Old-Post] The Wolf of Wall Street : Another Example of Life’s Irony

[Old-Post] The Wolf of Wall Street : Another Example of Life’s Irony

Abis nonton The Wolf of Wall Street. Amazing story. Amazing performance by Di Caprio and Jonah Hill.

Salah satu dari sedikit film yg menimbulkan impact ke diri sendiri.

Money is indeed a power, sesuai yg digambarkan sama film itu.

Tetapi bukan uang yg menyebabkan kejatuhan.

Melainkan arogansi.

Seperti flu. Tuhan sepertinya sudah menanamkan benih arogansi dalam diri setiap manusia.

Its already there. Tidak senantiasa muncul, kalau tidak ada hal yg memicunya..

Hal-hal seperti.. Prestasi, penghargaan, pengakuan, pencapaian, keberhasilan, kesuksesan, kepemilikan atas sesuatu.. Semua yg didamba oleh kebanyakan orang.

Hingga suatu saat, hal-hal ini jualah yg menjadi alasan dibalik kehancuran mereka.

Oh, how I love when I discovered another life’s irony.

[Old Post] Surga si Penjudi

[Old Post] Surga si Penjudi

Semingguan ini saya baca buku terbaru-nya Tony Robbins berjudul “Money Master the Game”. Buku setebal 600-an halaman yg sangat mengesankan. Di bagian akhir chapter buku tersebut, Tony mengutip sebuah kisah dalam serial “Twilight Zone”, yg terus terang membuat kepala saya meledak.

For your information, kisah ini hampir tidak ada hubungannya dengan inti buku-nya Tony.

Berikut kisahnya (saya terjemahkan bebas dari tulisan aslinya Tony yg berbahasa Inggris) :

Tersebutlah seorang laki-laki yg gemar berjudi. Suatu ketika lelaki ini meninggal dunia, dan kemudian “terbangun” menemukan seseorang berpakaian jas putih lengkap seperti pelayan sedang berdiri di sampingnya. Si pelayan memperkenalkan dirinya sebagai malaikat yg akan menjadi pemandu dirinya.

Dengan dikelilingi oleh cahaya yg berbinar-binar, si pelayan ini membawa sang penjudi ke sebuah kasino yg sangat megah dan lux.. Yang mana ini merupakan gambaran ideal bagi si penjudi akan “surga”.

Si pelayan kemudian mengantar si penjudi menuju kamar penthouse super mewah di dalam kasino tersebut, di mana dirinya melihat sendiri jajaran pakaian dan sepatu-sepatu mahal yg si@@ap dia kenakan. Dia memilih mengenakan salah satu jas dan sepatu yg rupanya sangat pas melekat di tubuhnya. Si penjudi kemudian membuka salah satu laci yg ada di ruangan dan menemukan bergepok-gepok uang kertas dollar yg siap dipakai untuk berjudi.

Dengan kesenangan yg begitu membuncah, si penjudi pun keluar dari penthouse menuju arena perjudian. Sepanjang perjalanannya, semua orang yg dia temui tersenyum dan menyapa hangat dirinya. Mereka semua mengenal dirinya. Sungguh membahagiakan.

Ketika dirinya sampai di meja blackjack, semua orang di sana menyapa dan tampak sangat senang akan kehadirannya. Belum lagi ketika dia kedatangan 4 wanita cantik yg langsung duduk dipangkuan dan menggelayuti lengan-lengan si penjudi.

Ketika mulai bermain, dirinya langsung mendapatkan angka 21 ! Ratusan chip judi bernilai puluhan dollar tumpah ruah ke dalam kantung dan tasnya seiring dengan kemenangannya yg tak terputus di meja poker, roulette, wheel of fortune, dan mesin slot.

Si penjudi kala itu makan dan minum semua yg dia inginkan segera. Menikmati kemanjaan yg tiada tara dari para wanita cantik yg mengelilinginya, serta mengakhiri hari itu dengan tertidur pulas bahagia.. Dengan masih dikelilingi oleh wanita-wanita menakjubkan tadi.

Bulan demi bulan pun berlalu, dan si penjudi tidak pernah sehari pun mengalami kekalahan. Semua yg dia inginkan selalu terpenuhi, semua nafsu keduniawian dia selalu terpuaskan tanpa tertunda sedetik pun.

Hingga suatu hari.. “Blackjack !” seru sang Dealer. Ratusan chip kembali mengisi penuh tas si penjudi. “Full house ! Anda menang lagi, pak !” seru sang Dealer di meja poker.

“Iya saya paham ! Saya menang lagi ! Saya menang terus ! Saya tidak pernah kalah ! Ya Tuhan, saya muak dengan semua ini !” seru si penjudi.

Si penjudi pun beralih ke si pelayan yg dia temui pertama kali dan meminta untuk bertemu dengan kepala malaikat di sana. Serta merta sang pimpinan malaikat datang menemuinya dengan senyum lebar bercahaya, si penjudi langsung melepaskan kefrustasiannya :

“Saya bosan sekali dengan semua ini, wahai pimpinan malaikat ! Saya bisa gila kalau ini dilanjutkan. Pasti ada kesalahan. Saya bukan orang baik-baik. Saya tidak pantas berada di surga !”

Bola mata si penjudi sama sekali tidak berbohong ketika dirinya menyaksikan sendiri bagaimana raut wajah si pimpinan malaikat yg tadinya penuh senyuman bercahaya, tetiba berubah mewujud seringai bengis yg mengerikan seiring dirinya berucap :

“Oh, apa yg membuatmu berpikir kalau engkau sedang berada di surga ?”

Mind-Blown
Mind-Blown